Perwira Kecil dari Palu Utara

“Wulan tidak bisa lari karena pintu musola roboh, dan dia belum sempet keluar. Saya tidak bisa tolong dia,” tutur Wira, anak laki-laki berusia 9 tahun seraya pandangannya menerawang jauh. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena tak mampu menolong teman sekelas yang juga teman bermain di rumahnya di kampung nelayan Kecamatan Tawaeli, Kota Palu Utara.

Gempa dan tsunami 28 September 2018 mengubah hidupnya. Tidak ada lagi rumah tempat bernaung bersama bapak, mamak, dan saudara-saudaranya, tidak ada lagi sekolah tempatnya mengejar cita-cita, dan beberapa temannya tidak akan pernah lagi bisa bemain dengannya. Kejadian itu akan selalu tinggal dalam ingatan Wira. Kini ia tinggal bersama dengan 133 anak lainnya di sebuah lokasi pengungsian yang berjarak kurang dari satu kilometer dari desanya.

“Sejak tsunami, kami belum bisa sekolah. Sekolah kami roboh. Kami tidak tahu kapan bisa sekolah lagi,” ujarnya. Wira merasa sangat ingin kembali bersekolah. Satu-satunya kegiatan yang masih bisa ia lakukan hanyalah bermain. Itu pun dengan kondisi yang tidak ramah untuk anak karena lokasi pengungsian dikelilingi benda-benda tajam seperti paku dan puing bangunan, serta semak belukar berduri. Namun, anak-anak tetaplah anak-anak. Bermain adalah sifat kodrati mereka. Lewat bermain anak-anak mengalihkan pikiran dan menyalurkan energi mereka yang sangat berlimpah.

Untunglah Yayasan Plan International Indonesia hadir melalui Mobile Recreational Activity (MRA). Di bawah naungan tenda dan beralaskan terpal, anak-anak dapat bermain tanpa merasakan sengatan panas matahari dan aman dari risiko cidera. Di tempat ini pula Wira dan teman-temannya bisa belajar tentang kesehatan untuk diri sendiri melalui hal kecil, seperti mencuci tangan pakai sabun sebelum makan. Mereka juga dikenalkan mengenai ancaman bahaya di kampung mereka, dan apa yang harus mereka lakukan untuk terhindar dari risiko. Anak-anak diajarkan sebuah lagu dengan mengambil nada “Potong Bebek Angsa”, namun liriknya diubah menjadi:

“Kalau ada gempa, lindungi kepala.

Kalau ada gempa, ingat BBMK.

Jangan berlari, jangan berisik.

Jangan mendorong dan jangan kembali…”

Duka Wira kehilangan rumah dan teman sepermainan mulai terobati seraya senyum dan tawanya menghias hari-hari di MRA. Ia mengaku rasa rindunya akan sekolah sedikit berkurang. Kini karakter seorang Perwira muncul dalam diri Wira. Ia tampak siap menjalani kehidupan yang lebih baik hari ini, esok, dan seterusnya.

 

*Untuk melindungi identitas anak, nama di atas bukan nama sebenarnya

Share artikel ini :

BA
CK